Kamis, 05 Desember 2019

Surat untuk kakek



5 tahun lalu, ketika hidupku dalam keadaan sekarat.
Pasrah dengan keadaan tanpa ada perjuangan.
Kakek setiap hari menengok, memberikan uang "buat jajan" katanya.
Sampai suatu hari kakek bilang "cepet sehat, udah sehatmah mau kuliah kakek bantuin".
Cukup dengan kata itu kek, semangat hidupku tumbuh.
Berjuang melawan sakit yang hampir setahun menggerogoti hidup dan semangat hidupku.
Aku berjuang kek, mendaftarkan kuliah tanpa bilang sesiapapun, sampai berjuang mencari Beasiswa untuk menggapai keinginanku, yang menjadi harapanmu juga.
Dulu, hampir setiap Hari kau bertanya "gimana teh, kuliah teh ? Rame?" Aku melihat sinar kebanggan dari raut wajahmu, dan aku, jauh lebih bahagia.
Sampai suatu hari, Allah memanggilmu, Allah lebih sayang padamu. Aku melepasmu, dengan berat hati. Karena perjuangan yang menjadi kebanggaanmu, tetap menanti, dan harus aku tuntaskan.
Bertahun tahun berlalu, aku melaluinya dengan baik.
Tanpa rintangan yang berarti.
Kini, aku kembali ke titik 0.
Dimana harapan hidupku kembali hilang.
Sayangnya, disaat saat seperti ini, aku menyadari, bahwa penyemangat hidupku pun tlah tiada.
Mengapa selama ini aku baru menyadari, bahwa hanya kakek yang benar benar peduli ?
Aku kehilangan arah dan tujuan.
Terlebih, aku kehilangan semangat hidup dan penyemangat hidup.
Ketika pikiran mengarahkan aku untuk menemuimu,
apa kau akan bahagia ?
Aku hampa

Kamis, 28 November 2019

Sejenak




Berhentilah sejenak
jika kau merasa lelah akan pengharapan semu
jika kau merasa lelah akan perlakuan manusia terhadapmu
jika kau merasa lelah akan kebohongan dunia dalam hidupmu.

Berhentilah sejenak,
hingga kau sandarkan bahumu diatas tanah yang selalu kau injakkan
hingga kau landaskan keningmu diatas tempat sujud yang sempat terlupakan
hingga kau pasrahkan kecewamu dalam dekapan doa yang mampu kau layangkan.

Kita semua dapat menentukkan dimana titik pemberhentian kita.
Jika dunia menentang, acuhkanlah.
Setiap pembelajar, hanya membutuhkan waktu untuk memahami.
Setiap pejuang, hanya membutuhkan waktu untuk mengatur strategi.
Setiap pendosa, hanya membutuhkan waktu untuk tersadar kembali.
Maka, berhentilah, jika dunia mulai memberatkanmu.

Tak ada yang salah dari kekejaman dunia.
Tak ada makhluk yang Ia ciptakan sempurna.
Maka tersandarlah lelah sementara.
Agar kau tak melupakan tentang hakikat bahagia yang paling sederhana.

Ia menciptakan manusia dengan keterbatasan.
Karena keterbatasan hanya melingkupi unsur kemampuan.
Ia memberika keterbatasan kemampuan, bukan  keterbatasan kemauan.
Yang berarti bahwa, kemauan kita, tak memiliki keterbatasan.
Jadi, kau bisa bermimpi setinggi apapun.
Kau bisa berharap sejauh apapun.
Kau bisa menciptakan ceritamu sehebat apapun.
Namun ingat, kau membutuhkan waktu untuk kembali berhenti sejenak dan merancangnya kembali.
Sesuaikan kemauanmu dengan kemampuanmu.

"Kecewa" adalah hal biasa,
yang luar biasa itu adalah ketika kita dapat memaafkan rasa kecewa dengan ikhlas.
Maka, aku tahu bahwa kamu tangguh.
Menjalani hari tanpa mengeluh.

Membenci Depresi

Dulu Aku selalu berfikir, bagaimana seseorang bisa memilih untuk mengakhiri hidupnya ?
Baik itu karena teman, percintaan, ataupun karena sekelumit tantangan dalam kehidupannya.
Dulu aku selalu berfikir, bagaimana bisa seseorang berteman dengan depresi ?
Dulu akupun selalu berfikir, Tak berani menghujat mereka karena akupun takut menemui titik itu.

Sekarang, aku Tau bagaimana rasanya.
Ketika bayang bayang kematian ada dihadapanku.
Hanya memikirkan tentang 'cara mengakhiri yang baik dan benar'
Ya, selangkah demi selangkah mungkin aku sedang pendekatan dengan yang namanya depresi.
Mulai dengan tidak merespon orang orang yang peduli, hingga merasa sendiri.
Aku tak mau, tapi semua itu menghampiri, dari ego sendiri.

Aku mencoba kembali memperbaiki diri, walau aku merasa tak ada orang yang dapat ku percaya untukku bercerita, aku memaksakan, dan akhirnya ? Percuma. Respon mereka, tak ada yang memuaskan.
Aku kembali pada Rabbku, mencurahkan segalanya, kembali air mata selalu terurai dalam setiap hentakkan sujudku. Namun, masih belum hadir ketenangan itu.
Setiap saat aku kembali memperbaiki shalatku, ditambah shalat Sunnah hanya untuk mencari dimana kesalahanku dalam memohon untuk dijauhkannya perasaan ini.
Dan benar saja, aku tak menemukannya.
Aku kembali membuka memori tentang 'ujian'.
Meyakini bahwa Allah takkan memberikan ujian diluar kemampuan Hambanya.
Seketika aku tersadar bahwa aku mampu melewatinya.
Namun, ketika waktu kembali menuntunku bertemu orang orang, aku merasa kembali tak seperti mereka.


Apakah ini yang membuat seseorang tak betah dengan kehidupannya ? Aku Tak percaya.
Jika seseorang berfikir 'bagaimana masa depannya?'
Maka aku masih berfikir 'bagaimana cara mengakhiri semua ini dengan baik dan benar ?'

Sabtu, 21 Juli 2018

Kamulah senjaku

Kering kerontang..
Kata yang tepat untuk sejenak menikmati kejenuhan hidup yang kita lalui dengan aktifitas yang sama.
Makna kehidupan yang kita dapati, mungkin tak selalu sama. Namun, ada kesamaan makna yang selalu kita cari dalam aktifitas kita.
"Kebahagiaan"
Adalah sebuah motivasi kehidupan yang selalu kita usahakan dalam setiap harinya.
Tanpa kita sadari bahwa, kehidupan itu adalah kebahagiaan tersendiri, yang terkadang lupa untuk kita syukuri.
Melihat semua manusia berjuang untuk dapat bertahan hidup dari hari ke harinya, hewan dan tumbuhan yang juga tumbuh dan melengkapi cerita manusia, adalah sebuah keindahan alam yang unik mengesankan.
Darimu, aku banyak belajar.
Tentang keindahan tak bertepi yang kadang terlewati, hingga lupa ku syukuri.
Namun, tiada lelah kau kembali menyinari hari yang sempat ku hakimi.
Manusia itu unik, alampun demikian.
Dan taukah kita, tentang hal terkecil sekalipun memiliki makna dan tujuan yang tersirat.
Maka sedalam apa kita memikirkan sesuatu yang hadir dalam hari hari kita.
Percayalah, tiada yang sia sia sekalipun sebuah daun jatuh tepat didepan mata kita, maka pelajaran apa yang dapat kita petik dari kejadian itu ?
Setiap langkah kaki yang meninggalkan tapak.
Deru nafas yang terhirup setiap saat.
Bahkan sebuah tindakan yang kita lakukan.
Memiliki makna yang berarti.
Karena hakikatnya, kita sedang dibimbingNya untuk menemui sesuatu yang indah.
Apakah kau pernah memikirkannya hingga jauh kesana ?
Pertemuan dan perpisahan, apa yang telah kau siapkan ?
Adakah lagi yang kau keluhkan ?
Alam selalu mengajariku untuk bersyukur, namun keadaan terkadang mampu membuatku kufur, maka serahkan hatimu pada sang penggenggam rindu. Ketika kau mulai mengeluh dalam berjuang, ketika kau mulai lelah dan gelisah, pasrahkan hanya kepadaNya.
Dan tataplah senja yang menemui peraduannya.
Ketika syukurmu datang, maka lelahmu hilang.
Itulah keunikan Allah mensetting makhluknya untuk membuatmu tersenyum.
Romantisme yang indah, bukan ?
Dan aku menemukanmu dikala itu.
Dikala senjaku menemui peraduan.
Dikala syukurku datang dan lelahku hilang.
Seolah doa menjelma kedalam dirimu.
Terimakasih.
Untukmu yang masih tersirat, semoga lekas tersurat.

Jumat, 22 Juni 2018

Pecinta mimpi

Bukan tentang bahagia atau tidaknya kau hidup denganku, bukan tentang seberapa banyak waktu yang kau luangkan untukku, ataupun bukan tentang bukti empiris yang kau beri untuk membuktikan cintamu.
Kita memaknai tentang suatu kebijaksanaan yang lahir dari palung hati. Suatu mozaik yang terlengkapi dikala cinta itu terpatri. Atau merasa saling menjaga dalam keterbatasan mimpi.
Cinta,
Merealisasikan mimpin dalam kehidupan nyata.
Yang tak sembarang orang mampu melakukannya jika ia bukanlah pilihannya.
Menarik suatu kesimpulan tentang siasat isi hati dalam menjalin sebuah hubungan tidaklah mudah.
Negosiasi terhadap hati pribadi dalam mempertimbangkan suatu perlakuan yang pantas dan tak pantas untuk kita lakukan adalah suatu tantangan.
Namun cinta, akan menuntunmu melakukannya.
Maka TIDAK !!
Aku tegaskan terhadap hati yang mencari jati diri dengan mengumbar keseriusan tanpa aksi dan arti.
Karna mimpi, hanya akan didapati oleh insan yang hatinya tlah memantaskan diri dengan mantap untuk melangkah pada suatu hubungan yang serius.
Mimpi ialah perancangan tentang masa depan.
"Jika kau ingin berjalan jauh, berjalanlah dengan teman. Namun jika kau ingin berjalan cepat, berjalanlah sendiri" katanya.
Kau paham dengan jelas maksud kata diatas.
Maka, dengan jalan apakah kita akan menggapai mimpi kita ?

Senin, 18 Juni 2018

Sama kah aku dengan kamu ?

Cinta.
Katanya, ketika kita mencintainya karena Allah, hati kita akan tenang. Mendoakannya disepertiga malam, memdekatkan kita padanya. Memendam rasa dan mencintainya dalam diam, adalah pengalaman yang takkan terlupa.
Untuk point no 3, aku setuju. Selebihnya ? Aku membutuhkan waktu lebih untuk memahaminya.
Percayakah kau, jika kita jatuh cinta, doa kita menjadi tak sempurna. Ada sesuatu yang hilang dari hakikat doa itu sendiri.
Jujur saja, cinta yang kurasakan berbeda. Aku yang selalu terinspirasi dari mahabbahnya Rabiatul adawwiyah selalu merasa bingung tentang cinta manusia yang katanya fitrah.
Mendoakannya di sepertiga malam ? Untuk apa ? Apa yang kita harapkan ?
Manusiawi jika kita mempunyai rasa untuk memiliki sang pujaan hati.
Namun, apakah tidak malu, jika kita menyebut namanya didalam doa doa kita ?
Apa jika ia tlah menjadi pendampingmu, selesai sudah perjuangan doamu tentang sebuah penantian ?
Aku, masih merasa malu bila harus menyebut namamu dalam doaku.
Karna ada kesakralan yang hilang dikala itu.
Saat saat dimana aku tak khusyu mendoakan yang berhak aku doakan.
Saat saat dimana aku seharusnya bermesraan dengan sang pencipta.
Dan bayangmu hadir menghampiri, seperti pengemis doa dalam khusyukku.
Mengapa aku merasa begitu terbebani ?
Bahkan ketika aku tengah meminta pada sang Maha pemberi.
Pantaskah namamu kusebut dalam doaku ?
Seseorang yang menjadi benteng didalam permohonanku terhadapNya.
Karna terkadang, tanpa terucappun, bayangmu mengalir membanjiri anganku.
Maka, seperti apakah cinta yang baik itu ?

Senin, 11 Juni 2018

Dilara


Dilara itu membingungkan.

walau terkadang ambigu, namun kesalahan selalu terlihat benar jika dibenarkan
andaikan nafsu tak melalap kedalaman cinta untuk dikecewakan
bukan berarti cinta itu hilang, hanya saja...

Kau tau, efrina takkan menghempas tubuh tak berdosa
namun kau sadari bahwasannya, kebenaran selalu menempati sudut objektif dalam nalar
tak pernah bergeser walau naluri mencoba membela
biarkan efrina mencintai dilara itu sendiri

Katanya, kebijaksanaan adalah kharismatik terindah yang ada dalam diri seseorang
mungkin karena itu jualah dilara membelah diri
tanpa ada yang menginginkan, seolah itu menjadi suatu kesalahan
lalu siapakah yang pantas disalahkan atas kejadian ini ?

Jangan mendekat dalam keadaan dimana kau tak tahu dimana dilara itu terpendam
karena jika itu terjadi, mungkin akan ada yang merasa terluka
jauh dari kata benar atau salah, dilara menduduki keadaan objektif
dimana kau takkan pernah tau bahwa shopia ada didalam kegelisahannya


Surat untuk kakek

5 tahun lalu, ketika hidupku dalam keadaan sekarat. Pasrah dengan keadaan tanpa ada perjuangan. Kakek setiap hari menengok, memberikan...