Kamis, 05 Desember 2019

Surat untuk kakek



5 tahun lalu, ketika hidupku dalam keadaan sekarat.
Pasrah dengan keadaan tanpa ada perjuangan.
Kakek setiap hari menengok, memberikan uang "buat jajan" katanya.
Sampai suatu hari kakek bilang "cepet sehat, udah sehatmah mau kuliah kakek bantuin".
Cukup dengan kata itu kek, semangat hidupku tumbuh.
Berjuang melawan sakit yang hampir setahun menggerogoti hidup dan semangat hidupku.
Aku berjuang kek, mendaftarkan kuliah tanpa bilang sesiapapun, sampai berjuang mencari Beasiswa untuk menggapai keinginanku, yang menjadi harapanmu juga.
Dulu, hampir setiap Hari kau bertanya "gimana teh, kuliah teh ? Rame?" Aku melihat sinar kebanggan dari raut wajahmu, dan aku, jauh lebih bahagia.
Sampai suatu hari, Allah memanggilmu, Allah lebih sayang padamu. Aku melepasmu, dengan berat hati. Karena perjuangan yang menjadi kebanggaanmu, tetap menanti, dan harus aku tuntaskan.
Bertahun tahun berlalu, aku melaluinya dengan baik.
Tanpa rintangan yang berarti.
Kini, aku kembali ke titik 0.
Dimana harapan hidupku kembali hilang.
Sayangnya, disaat saat seperti ini, aku menyadari, bahwa penyemangat hidupku pun tlah tiada.
Mengapa selama ini aku baru menyadari, bahwa hanya kakek yang benar benar peduli ?
Aku kehilangan arah dan tujuan.
Terlebih, aku kehilangan semangat hidup dan penyemangat hidup.
Ketika pikiran mengarahkan aku untuk menemuimu,
apa kau akan bahagia ?
Aku hampa

Surat untuk kakek

5 tahun lalu, ketika hidupku dalam keadaan sekarat. Pasrah dengan keadaan tanpa ada perjuangan. Kakek setiap hari menengok, memberikan...