percayalah apa yang kau kerjakan akan dipertanggungjawabkan. yakin pada kemampuan positif yang kita miliki. if you hear, you'll know. if you see, you'll remember. but if you do, you'll understand.
Kamis, 28 November 2019
Sejenak
Berhentilah sejenak
jika kau merasa lelah akan pengharapan semu
jika kau merasa lelah akan perlakuan manusia terhadapmu
jika kau merasa lelah akan kebohongan dunia dalam hidupmu.
Berhentilah sejenak,
hingga kau sandarkan bahumu diatas tanah yang selalu kau injakkan
hingga kau landaskan keningmu diatas tempat sujud yang sempat terlupakan
hingga kau pasrahkan kecewamu dalam dekapan doa yang mampu kau layangkan.
Kita semua dapat menentukkan dimana titik pemberhentian kita.
Jika dunia menentang, acuhkanlah.
Setiap pembelajar, hanya membutuhkan waktu untuk memahami.
Setiap pejuang, hanya membutuhkan waktu untuk mengatur strategi.
Setiap pendosa, hanya membutuhkan waktu untuk tersadar kembali.
Maka, berhentilah, jika dunia mulai memberatkanmu.
Tak ada yang salah dari kekejaman dunia.
Tak ada makhluk yang Ia ciptakan sempurna.
Maka tersandarlah lelah sementara.
Agar kau tak melupakan tentang hakikat bahagia yang paling sederhana.
Ia menciptakan manusia dengan keterbatasan.
Karena keterbatasan hanya melingkupi unsur kemampuan.
Ia memberika keterbatasan kemampuan, bukan keterbatasan kemauan.
Yang berarti bahwa, kemauan kita, tak memiliki keterbatasan.
Jadi, kau bisa bermimpi setinggi apapun.
Kau bisa berharap sejauh apapun.
Kau bisa menciptakan ceritamu sehebat apapun.
Namun ingat, kau membutuhkan waktu untuk kembali berhenti sejenak dan merancangnya kembali.
Sesuaikan kemauanmu dengan kemampuanmu.
"Kecewa" adalah hal biasa,
yang luar biasa itu adalah ketika kita dapat memaafkan rasa kecewa dengan ikhlas.
Maka, aku tahu bahwa kamu tangguh.
Menjalani hari tanpa mengeluh.
Membenci Depresi
Dulu Aku selalu berfikir, bagaimana seseorang bisa memilih untuk mengakhiri hidupnya ?
Baik itu karena teman, percintaan, ataupun karena sekelumit tantangan dalam kehidupannya.
Dulu aku selalu berfikir, bagaimana bisa seseorang berteman dengan depresi ?
Dulu akupun selalu berfikir, Tak berani menghujat mereka karena akupun takut menemui titik itu.
Sekarang, aku Tau bagaimana rasanya.
Ketika bayang bayang kematian ada dihadapanku.
Hanya memikirkan tentang 'cara mengakhiri yang baik dan benar'
Ya, selangkah demi selangkah mungkin aku sedang pendekatan dengan yang namanya depresi.
Mulai dengan tidak merespon orang orang yang peduli, hingga merasa sendiri.
Aku tak mau, tapi semua itu menghampiri, dari ego sendiri.
Aku mencoba kembali memperbaiki diri, walau aku merasa tak ada orang yang dapat ku percaya untukku bercerita, aku memaksakan, dan akhirnya ? Percuma. Respon mereka, tak ada yang memuaskan.
Aku kembali pada Rabbku, mencurahkan segalanya, kembali air mata selalu terurai dalam setiap hentakkan sujudku. Namun, masih belum hadir ketenangan itu.
Setiap saat aku kembali memperbaiki shalatku, ditambah shalat Sunnah hanya untuk mencari dimana kesalahanku dalam memohon untuk dijauhkannya perasaan ini.
Dan benar saja, aku tak menemukannya.
Aku kembali membuka memori tentang 'ujian'.
Meyakini bahwa Allah takkan memberikan ujian diluar kemampuan Hambanya.
Seketika aku tersadar bahwa aku mampu melewatinya.
Namun, ketika waktu kembali menuntunku bertemu orang orang, aku merasa kembali tak seperti mereka.
Apakah ini yang membuat seseorang tak betah dengan kehidupannya ? Aku Tak percaya.
Jika seseorang berfikir 'bagaimana masa depannya?'
Maka aku masih berfikir 'bagaimana cara mengakhiri semua ini dengan baik dan benar ?'
Baik itu karena teman, percintaan, ataupun karena sekelumit tantangan dalam kehidupannya.
Dulu aku selalu berfikir, bagaimana bisa seseorang berteman dengan depresi ?
Dulu akupun selalu berfikir, Tak berani menghujat mereka karena akupun takut menemui titik itu.
Sekarang, aku Tau bagaimana rasanya.
Ketika bayang bayang kematian ada dihadapanku.
Hanya memikirkan tentang 'cara mengakhiri yang baik dan benar'
Ya, selangkah demi selangkah mungkin aku sedang pendekatan dengan yang namanya depresi.
Mulai dengan tidak merespon orang orang yang peduli, hingga merasa sendiri.
Aku tak mau, tapi semua itu menghampiri, dari ego sendiri.
Aku mencoba kembali memperbaiki diri, walau aku merasa tak ada orang yang dapat ku percaya untukku bercerita, aku memaksakan, dan akhirnya ? Percuma. Respon mereka, tak ada yang memuaskan.
Aku kembali pada Rabbku, mencurahkan segalanya, kembali air mata selalu terurai dalam setiap hentakkan sujudku. Namun, masih belum hadir ketenangan itu.
Setiap saat aku kembali memperbaiki shalatku, ditambah shalat Sunnah hanya untuk mencari dimana kesalahanku dalam memohon untuk dijauhkannya perasaan ini.
Dan benar saja, aku tak menemukannya.
Aku kembali membuka memori tentang 'ujian'.
Meyakini bahwa Allah takkan memberikan ujian diluar kemampuan Hambanya.
Seketika aku tersadar bahwa aku mampu melewatinya.
Namun, ketika waktu kembali menuntunku bertemu orang orang, aku merasa kembali tak seperti mereka.
Apakah ini yang membuat seseorang tak betah dengan kehidupannya ? Aku Tak percaya.
Jika seseorang berfikir 'bagaimana masa depannya?'
Maka aku masih berfikir 'bagaimana cara mengakhiri semua ini dengan baik dan benar ?'
Langganan:
Postingan (Atom)
Surat untuk kakek
5 tahun lalu, ketika hidupku dalam keadaan sekarat. Pasrah dengan keadaan tanpa ada perjuangan. Kakek setiap hari menengok, memberikan...
-
Dan, Diantara celah pepohonan itu, aku melihat satu sinar terang dibalik rimbunnya dedaunan. Sinar itu mendekat dan terus mendekat Hin...
-
Dulu Aku selalu berfikir, bagaimana seseorang bisa memilih untuk mengakhiri hidupnya ? Baik itu karena teman, percintaan, ataupun karena se...
-
Berhentilah sejenak jika kau merasa lelah akan pengharapan semu jika kau merasa lelah akan perlakuan manusia terhadapmu jika kau mer...

