Senin, 18 Juni 2018

Sama kah aku dengan kamu ?

Cinta.
Katanya, ketika kita mencintainya karena Allah, hati kita akan tenang. Mendoakannya disepertiga malam, memdekatkan kita padanya. Memendam rasa dan mencintainya dalam diam, adalah pengalaman yang takkan terlupa.
Untuk point no 3, aku setuju. Selebihnya ? Aku membutuhkan waktu lebih untuk memahaminya.
Percayakah kau, jika kita jatuh cinta, doa kita menjadi tak sempurna. Ada sesuatu yang hilang dari hakikat doa itu sendiri.
Jujur saja, cinta yang kurasakan berbeda. Aku yang selalu terinspirasi dari mahabbahnya Rabiatul adawwiyah selalu merasa bingung tentang cinta manusia yang katanya fitrah.
Mendoakannya di sepertiga malam ? Untuk apa ? Apa yang kita harapkan ?
Manusiawi jika kita mempunyai rasa untuk memiliki sang pujaan hati.
Namun, apakah tidak malu, jika kita menyebut namanya didalam doa doa kita ?
Apa jika ia tlah menjadi pendampingmu, selesai sudah perjuangan doamu tentang sebuah penantian ?
Aku, masih merasa malu bila harus menyebut namamu dalam doaku.
Karna ada kesakralan yang hilang dikala itu.
Saat saat dimana aku tak khusyu mendoakan yang berhak aku doakan.
Saat saat dimana aku seharusnya bermesraan dengan sang pencipta.
Dan bayangmu hadir menghampiri, seperti pengemis doa dalam khusyukku.
Mengapa aku merasa begitu terbebani ?
Bahkan ketika aku tengah meminta pada sang Maha pemberi.
Pantaskah namamu kusebut dalam doaku ?
Seseorang yang menjadi benteng didalam permohonanku terhadapNya.
Karna terkadang, tanpa terucappun, bayangmu mengalir membanjiri anganku.
Maka, seperti apakah cinta yang baik itu ?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Surat untuk kakek

5 tahun lalu, ketika hidupku dalam keadaan sekarat. Pasrah dengan keadaan tanpa ada perjuangan. Kakek setiap hari menengok, memberikan...