Jumat, 22 Juni 2018

Pecinta mimpi

Bukan tentang bahagia atau tidaknya kau hidup denganku, bukan tentang seberapa banyak waktu yang kau luangkan untukku, ataupun bukan tentang bukti empiris yang kau beri untuk membuktikan cintamu.
Kita memaknai tentang suatu kebijaksanaan yang lahir dari palung hati. Suatu mozaik yang terlengkapi dikala cinta itu terpatri. Atau merasa saling menjaga dalam keterbatasan mimpi.
Cinta,
Merealisasikan mimpin dalam kehidupan nyata.
Yang tak sembarang orang mampu melakukannya jika ia bukanlah pilihannya.
Menarik suatu kesimpulan tentang siasat isi hati dalam menjalin sebuah hubungan tidaklah mudah.
Negosiasi terhadap hati pribadi dalam mempertimbangkan suatu perlakuan yang pantas dan tak pantas untuk kita lakukan adalah suatu tantangan.
Namun cinta, akan menuntunmu melakukannya.
Maka TIDAK !!
Aku tegaskan terhadap hati yang mencari jati diri dengan mengumbar keseriusan tanpa aksi dan arti.
Karna mimpi, hanya akan didapati oleh insan yang hatinya tlah memantaskan diri dengan mantap untuk melangkah pada suatu hubungan yang serius.
Mimpi ialah perancangan tentang masa depan.
"Jika kau ingin berjalan jauh, berjalanlah dengan teman. Namun jika kau ingin berjalan cepat, berjalanlah sendiri" katanya.
Kau paham dengan jelas maksud kata diatas.
Maka, dengan jalan apakah kita akan menggapai mimpi kita ?

Senin, 18 Juni 2018

Sama kah aku dengan kamu ?

Cinta.
Katanya, ketika kita mencintainya karena Allah, hati kita akan tenang. Mendoakannya disepertiga malam, memdekatkan kita padanya. Memendam rasa dan mencintainya dalam diam, adalah pengalaman yang takkan terlupa.
Untuk point no 3, aku setuju. Selebihnya ? Aku membutuhkan waktu lebih untuk memahaminya.
Percayakah kau, jika kita jatuh cinta, doa kita menjadi tak sempurna. Ada sesuatu yang hilang dari hakikat doa itu sendiri.
Jujur saja, cinta yang kurasakan berbeda. Aku yang selalu terinspirasi dari mahabbahnya Rabiatul adawwiyah selalu merasa bingung tentang cinta manusia yang katanya fitrah.
Mendoakannya di sepertiga malam ? Untuk apa ? Apa yang kita harapkan ?
Manusiawi jika kita mempunyai rasa untuk memiliki sang pujaan hati.
Namun, apakah tidak malu, jika kita menyebut namanya didalam doa doa kita ?
Apa jika ia tlah menjadi pendampingmu, selesai sudah perjuangan doamu tentang sebuah penantian ?
Aku, masih merasa malu bila harus menyebut namamu dalam doaku.
Karna ada kesakralan yang hilang dikala itu.
Saat saat dimana aku tak khusyu mendoakan yang berhak aku doakan.
Saat saat dimana aku seharusnya bermesraan dengan sang pencipta.
Dan bayangmu hadir menghampiri, seperti pengemis doa dalam khusyukku.
Mengapa aku merasa begitu terbebani ?
Bahkan ketika aku tengah meminta pada sang Maha pemberi.
Pantaskah namamu kusebut dalam doaku ?
Seseorang yang menjadi benteng didalam permohonanku terhadapNya.
Karna terkadang, tanpa terucappun, bayangmu mengalir membanjiri anganku.
Maka, seperti apakah cinta yang baik itu ?

Senin, 11 Juni 2018

Dilara


Dilara itu membingungkan.

walau terkadang ambigu, namun kesalahan selalu terlihat benar jika dibenarkan
andaikan nafsu tak melalap kedalaman cinta untuk dikecewakan
bukan berarti cinta itu hilang, hanya saja...

Kau tau, efrina takkan menghempas tubuh tak berdosa
namun kau sadari bahwasannya, kebenaran selalu menempati sudut objektif dalam nalar
tak pernah bergeser walau naluri mencoba membela
biarkan efrina mencintai dilara itu sendiri

Katanya, kebijaksanaan adalah kharismatik terindah yang ada dalam diri seseorang
mungkin karena itu jualah dilara membelah diri
tanpa ada yang menginginkan, seolah itu menjadi suatu kesalahan
lalu siapakah yang pantas disalahkan atas kejadian ini ?

Jangan mendekat dalam keadaan dimana kau tak tahu dimana dilara itu terpendam
karena jika itu terjadi, mungkin akan ada yang merasa terluka
jauh dari kata benar atau salah, dilara menduduki keadaan objektif
dimana kau takkan pernah tau bahwa shopia ada didalam kegelisahannya


Surat untuk kakek

5 tahun lalu, ketika hidupku dalam keadaan sekarat. Pasrah dengan keadaan tanpa ada perjuangan. Kakek setiap hari menengok, memberikan...